Tampilkan postingan dengan label wajah Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wajah Allah. Tampilkan semua postingan

30 Juni 2014

Makna ayat (Tafsir) : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah” [QS. Al-Qashash (28) ayat 88]

Tulisan ini dibuat untuk menjelaskan makna ayat yang sering disalahpahami oleh orang-orang yang menolak sifat Allah yang memiliki wajah. Ayat yang dimaksud berbunyi :
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah. (QS. Al-Qashash : 88)
Orang-orang yang menolak sifat wajah bagi Allah mengatakan bahwa tidak mungkin hanya wajah Allah saja yang tidak binasa, sedangkan dzat-Nya yang lain binasa.

Makna ayat

Padahal maksud ayat ini adalah segala yang ada di atas bumi ini akan hancur pada hari kiamat disebabkan berhadapan dengan wajah Allah, sedangkan wajah Allah tetaplah kekal. Sebagaimana diperjelas pada firman Allah :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman : 26-27)
Sebab segala yang di bumi ini akan hancur bila berhadapan dengan wajah Allah. Sebagaimana Nabi menjelaskan dalam sabdanya :
حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ
Hijab-Nya adalah cahaya, jika hijab itu dibuka niscaya terbakarlah di antara makhluk-Nya oleh cahaya wajah-Nya sejauh pandangan. (HR Muslim dari Abu Musa)
Inilah yang pernah terjadi ketika nabi Musa meminta agar Allah menampakkan dirinya. Allah berfirman :
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’raf : 143)
Demikian pula yang akan terjadi pada hari kiamat. Dimana Allah akan memperlihatkan wajah-Nya ke bumi ini dalam sekejap mata atau lebih cepat lagi. Allah berfirman :
وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An-Nahl : 77)
Padahal kita ketahui kejadian kiamat lebih lama dari sekejap mata mencakup di tiupnya sangkakala, langit digulung, bintang berserakan, gunung meletus, laut meluap dan sebagainya. Sebab maksudnya adalah puncak kiamat ketika Allah menampakkan wajah-Nya tidak lebih dari sekejap mata. Inilah yang membuat manusia, gunung dan apa yang ada di atas bumi hancur menjadi debu. Allah berfirman :
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah : 4-5)
Demikian pula firman Allah :
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi. (QS. Thaha : 105-107)

Fadhilah

Beberapa fadhilah penting dari ayat ini adalah :

1. Agar manusia tidak minta melihat Allah untuk mau beriman

Sebagimana firman Allah :
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 55-56)
Allah memperlihatkan kepada Bani Israil bahwa mereka tidak akan sanggup melihat Allah. Sebab dengan halilintar saja mereka mati terlebih lagi jika berhadapan langsung dengan Allah.

2. Allah melaknat dunia

Sesungguhnya Allah melaknat dunia dan isinya kecuali orang-orang yang beriman. Sebagaimana sabda Nabi :
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Adapun pada hari kiamat sudah tidak ada lagi orang beriman sehingga Allah hancurkan seluruh ini dunia yang terlaknat ini. Sebab bagi Allah nilai dunia ini tidak lebih baik dari satu sayap seekor nyamuk atau seonggok bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Oleh karena itu, Allah jadikan apa yang di atas bumi ini akan hancur bila berhadapan dengan-Nya.

3. Allah meridhai surga bagi manusia

Sedangkan Allah meridhai surga bagi manusia. Oleh karena itu, Dia menampakkan wajah-Nya nanti di surga kepada penghuninya. Allah berfirman :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah : 22-23)
Pada saat Allah menampakkan wajah-Nya di surga nanti, surga dan penghuni tidak akan menjadi hancur sebab Allah ciptakan demikian.Wallahu Ta’ala A’lam.

Iyas Tanjung
Bogor, 02 Ramadhan 1435 / 30 Juni 2014

10 Januari 2013

Hanya yang di Bumi dan Langit Bumi yang Hancur Ketika Kiamat

Allah berfirman :
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (Al-Qashash : 88)
Serta firman-Nya :
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman : 26-27)
Kedua ayat yang mulia ini, sering disalahartikan dan dijadikan dalil oleh orang-orang yang membuat-buat syubhat. Diantaranya :
  • Meniadakan Allah memiliki wajah dengan alasan tidak mungkin hanya wajah Allah yang kekal sedangkan jasad lainnya tidak.
  • Mengatakan surga dan neraka tidak kekal.
  • Serta syubhat lain yang berkenaan dengan dzat Allah dan kekekalan makhluk Allah di akhirat.
Dengan demikian banyaknya dalil yang menetapkan wajah Allah dan kekalnya surga dan neraka, para ulama Ahlussunnah menyepakati bahwa Allah memiliki wajah, surga dan neraka telah ada dan tidak akan musnah ketika kiamat dan sampai kapan pun. Bahkan sebagian besar ulama mengatakan bahwa beberapa makhluk Allah seperti malaikat dan Arsy tidak akan mati ketika kiamat. Karena tidak ada satu pun nash shahih yang menjelaskannya. Justru adanya nash tentang berkumpulnya para malaikat di penjuru langit.

Hancurnya makhluk karena wajah Allah

Sesungguhnya ayat diatas menjelaskan hancurnya makhluk karena wajah Allah, seperti hancurnya gunung ketika nabi Musa meminta Allah untuk menampakkan diri. Allah berfirman :
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al-A'raf : 143)
Kemudian Rasulullah menjelaskan pula pada hadits yang melalui Abu Musa, di dalamnya disebutkan.
حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ
Hijab-Nya adalah cahaya, jika hijab itu dibuka niscaya terbakar-lah di antara makhluk-Nya oleh cahaya muka-Nya sejauh pandangan. [HR Muslim]
Maka demikian pula terjadinya (puncak) kiamat karena cahaya wajah Allah walau sangat singkat. Allah menjelaskan dalam firman-Nya :
Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (An-Nahl : 77)
Dari penjelasan ini dapat kita ambil kesimpulan yaitu :
  • Allah memiliki wajah
  • Makhluk yang hancur pada hari kiamat hanya yang Allah kehendaki diantaranya manusia, jin, hewan, tumbuhan dan gunung dan lainnya.
  • Bahkan penjelasan ini menjelaskan pula tentang Nuzul Allah (sifat turunnya Allah) seperti turunnya Allah ke langit bumi pada sepertiga malam terakhir. Yaitu turunnya Allah untuk berfirman kepada malaikat di langit bumi seperti turunnya Dia untuk berkata-kata langsung dengan nabi Musa di sebuah bukit. Yaitu dengan tabir.

Logika sederhana yang terlupakan

Ada satu hal sederhana yang sering dilupakan oleh sebagian orang yang memaksa mengatakan bahwa semua makhluk Allah (tanpa pengecualiaan) akan hancur pada hari kiamat, yaitu sekecil apapun hancuran sebuah benda tetaplah partikel hancuran itu makhluk Allah. Wallahu a'lam.

Iyas Tanjung
Bogor, 10 Januari 2013