Tampilkan postingan dengan label persatuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persatuan. Tampilkan semua postingan

19 Juli 2013

Syubhat : Janganlah 'perkara sepele' merusak ukhuwah

Jika ucapan ini ditujukan untuk kepada dua orang/ kelompok yang berselisih dalam urusan pribadi (dunia) maka mungkin masih dimaklumi. Walaupun mungkin kedua pihak tersebut justru tersinggung disebut masalahnya sepele. Seakan-akan mereka malah dianggap bodoh.

Namun bagaimana jika ucapan ini ditujukan dalam perselisihan masalah agama ? Tidaklah orang-orang yang mengucapkan ini justru yang bodoh dalam banyak hal, diantaranya :
  1. Tidak ada dalam syariat agama ini yang sepele
  2. Ukhuwah itu dalam masalah perselisihan antar pribadi, sedangkan persatuan dalam masalah agama
  3. Agama itulah yang membawa kebaikan, bukan semangat manusia
  4. Termasuk kebaikan adalah persatuan, hanya dari agama (Allah) bukan manusia
  5. Pihak yang salah hakikatnya menyelisihi Allah bukan pihak yang benar
  6. Bukan pihak yang benar yang disuruh mengalah (toleransi), tapi yang salah yang wajib kembali kepada kebenaran
Wajib kita percaya bahwa semua syariat agama ini adalah agung. Tidak layak bagi Allah menetapkan sesuatu yang sepele. Menganggap sebagian perkara agama sepele sama saja menyepelekan Allah. Sedangkan mengagungkan semua syariat agama tanda ketakwaan seseorang. Allah berfirman :
Demikianlah (syariat Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Al-Hujurat : 32)
Kemudian kita harus paham antara ukhuwah dan persatuan. Inilah yang banyak manusia tidak bisa membedakannya. Padahal dalam Al-quran dan hadits menjelaskan bahwa ukhuwah itu dalam masalah pribadi, sedangkan persatuan dalam masalah agama. Allah berfirman :
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat : 9-10)
Dari ayat ini dijelaskan beberapa hal yaitu :
  • Ukhuwah dalam masalah pribadi, itulah yang perlu didamaikan
  • Jika ada yang salah maka harus diperbaiki bukan sekedar didamaikan
Dan Allah berfirman pula :
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran : 10)
Ayat ini menjelaskan :
  • Hal yang membuat persatuan yaitu sama-sama berpegang pada tali Allah (kebenaran)
  • Hal yang membuat perpecahan adalah orang yang lepas dari tali Allah
Persatuan hati semata-mata kekuasan Allah, sebagaimana firman Allah :
Dan (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu (Muhammad) membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Anfal : 63)
Namun, ukhuwah dan persatuan memang terkait. Karena ukhuwah memang merusak persatuan. Sebaliknya perpecahan merusak ukhuwah pula.

Begitu penting persatuan ini, tapi tidak ada perintah bersatu kecuali disebut dengan berpegang teguh pada tali Allah. Karena hanya dengan itulah persatuan itu bisa terwujud. Oleh karena itu, apabila terjadi perselisihan bukan yang pihak benar yang disuruh mengalah (toleransi), tapi yang salah yang wajib kembali kepada kebenaran.

Seseorang yang menyelisihi kebenaran hakikatnya ia menyelisihi Allah bukan pihak yang benar. Oleh karena itu tidak mungkin pihak yang benar mengalah kepada yang salah dan meninggalkan Allah. Demikian pula pihak luar, tidak mungkin berusaha menjadi penengah antara Allah dengan orang yang menyimpang.

Sesungguhnya kebenaran dan kebaikan HANYA dari Allah. Manusia hanya yang menjalankannya. Oleh karena itu, jangan semangat ukhuwah dan persatuan (yang berlebihan) ini membutakan kita dari jalan Allah. Karena semangat tidak bisa menunjukkan kepada kebenaran. Wallahu a'lam.

Iyas Tanjung
Tangsel, 19 Juli 2013

15 Januari 2013

5 Alasan, Shalat adalah Tiang Agama

Saat ini banyak sekali orang yang melalaikan shalat. Padahal kedudukan shalat adalah sebagai tiang agama. Jika tiangnya lemah maka lemah pula agamanya. Rasulullah bersabda :
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad. (HR. At-Tirmidzi)
Dalam hadits lain Beliau bersabda :
أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
Amalan seorang yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalannya. Namun jika buruk shalatnya maka buruk pula seluruh amalannya. (HR. Thabrani)
Sebab tujuan shalat bukanlah sebatas bukti penghambaan diri kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal-amal manusia. Justru Allah berkehendak memberi rahmat kepada manusia dengan amalan tersebut. Demikian pula dengan shalat, dimana shalat memiliki tujuan yang penting dalam agama. Sebagai tiang agama, paling tidak shalat memiliki manfaat diantaranya :
  • Penenang hati
  • Tiang amalan lain
  • Tiang jamaah (persatuan)
  • Pencegah perbuatan keji dan mungkar (dosa)
  • Pencegah kekafiran
Sebenarnya kelima manfaat diatas adalah satu kesatuan. Manfaat pertama sebagai penenang hati adalah fungsi dasar dari shalat. Dengan hati tenang dan iman yang bertambah karena shalat, maka manusia mudah untuk menjalankan amalan lain dan menegakkan persatuan. Serta dengan hati yang tenang dan keimanan pula manusia terhindar dari perbuatan keji, mungkar dan kekafiran.

1. Penenang Hati

Sesungguhnya Allah menjadikan manusia bersifat lemah, keluh kesah, kikir dan tergesa-gesa. Hal ini yang membuat manusia bermaksiat kepada Allah serta disesatkan setan. Namun dengan petunjuk Allah, manusia yang lemah akan selamat dari sifat-sifat buruknya. Allah berfirman :
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Allah hendak memberikan keringanan (petunjuk dan ampunan) kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisa : 28)
Demikian pula shalat, Allah jadikan shalat agar manusia yang dijadikan keluh kesah menjadi tenang. Sebab Allah jadikan hati manusia akan tenang ketika ingat kepada-Nya. Sehingga manusia bisa tetap ingat petunjuk-Nya serta tidak dijerumuskan setan. Allah berfirman :
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd : 28)
Dimana mengingat Allah yang paling utama adalah dengan cara shalat. Sebagimana firman-Nya :
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha : 14)
Sehingga dengan mengingat Allah melalui shalat hati menjadi tenang. Inilah seperti yang difirmankan Allah :
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ، إِلَّا الْمُصَلِّينَ ، الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang menegakkan shalat, yang mereka itu mengerjakan shalat secara terus-menerus. (QS. al-Ma’aarij : 19-23)
Rasulullah menjelaskan pula dalam sabdanya :
إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ
Diantara perkara dunia yang aku senangi adalah wanita dan wangi-wangian dan kesejukan pandanganku terdapat dalam shalat. (HR. Ahmad, an-Nasa’I, al-Hakim dan al-Baihaqi)

2. Tiang Amalan Lain

Apabila hati seseorang sudah tenang maka akan mudah untuk taat kepada Allah. Oleh karena itu shalat menjadi tiang agama. Hal ini disebabkan apabila shalat baik maka baik pula hatinya. Dan apabila hati seseorang baik maka baik pula amal lainnya. Sehingga apabila shalat baik maka baik pula amal lainnya.

Selain itu setiap amal shaleh yang dikerjakan akan menambah keimanan dan petunjuk kepada seseorang. Bertambahnya petunjuk disebabkan hati semakin bersih sehingga petunjuk lebih mudah masuk. Maka dengan iman dan petunjuk yang lebih kuat, seseorang akan lebih mudah menjalankan amalan dan ujian dalam agama ini. Allah berfirman :
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (QS. Al-Baqarah : 45)
Demikian pula yang Allah perintahkan kepada Rasulullah. Sebelum Allah mengutusnya (sebagai rasul) dengan surat Al-Muddatsir, Allah memerintahkan Rasulullah agar banyak mengerjakan shalat dalam surat Al-Muzaammil. Tujuannya agar Rasul siap dengan ujian yang berat ini, sebagaimana Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ، قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ، نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ، أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا ، إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (QS. Al-Muzzammil : 1-5)

3. Tiang Persatuan Umat

Satu hal yang banyak manusia tidak sadari, bahwa persatuan itu dari Allah. Allah berfirman :
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal : 63)
Begitu penting persatuan ini, tapi tidak Allah perintahkan kecuali dengan cara berpegang teguh pada agama Allah. Oleh karena itu, persatuan sesungguhnya hanya ada di antara orang beriman (bukan sekedar muslim) yang mengerjakan kewajiban dalam agama ini, diantaranya shalat. Allah berfirman :
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 71)
Dan termasuk dalam mendirikan/ menegakkan shalat adalah secara berjamaah (bagi laki-laki) serta menyempurnakan (lurus dan rapat) barisan shaf. Rasulullah bersabda :
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ
Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan shalat.(HR. Al-Bukhari)
Karena shaf yang tidak lurus akan mengakibatkan perpecahan diantara kaum muslimin. Rasul bersabda :
لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ
Kalian akan benar-benar meluruskan shaf, atau Allah benar-benar akan membuat hati-hati kalian berselisih. (HR. Al-Bukhari)
Bayangkan, jika seseorang tidak meluruskan shaf dapat mengakibatkan perpecahan umat, lantas bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat berjamaah? Dan bagaimana pula dengan orang yang meninggalkan kewajiban shalat lima waktu?

Oleh karena itu, begitu banyak orang yang mengajak kepada persatuan umat namun dia sendiri enggan menghadiri shalat berjamaah. Ataupun bila berjamaah namun dia merasa risih jika harus merapat dengan saudaranya sendiri. Anas bin Malik berkata:
Dulu, salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau lakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal yang liar (menjauh).(HR. Al-Bukhari)
Itulah orang-orang memiliki penyakit di hatinya. Sehingga dia merasa benar dengan kelalaiannya. Padahal kebenaran dan kebaikan adalah hidayah dari Allah. Oleh karena itu, begitu penting kedudukan shalat jamaah dalam menjaga keimanan seseorang dan persatuan umat. Maka selayaknya kita mendirikannya dengan sungguh-sungguh. Abdullah bin Mas'ud berkata :
Siapa berkehendak menjumpai Allah besok sebagai seorang muslim, hendaklah ia jaga semua shalat yang ada, dimanapun ia mendengar panggilan shalat itu, sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya semua shalat, diantara sunnah-sunnah petunjuk itu, kalau kalian shalat di rumah kalian sebagaimana seseorang yang tidak hadir di masjid, atau rumahnya, berarti telah kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sekiranya kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sungguh kalian akan sesat, tidaklah seseorang bersuci dengan baik, kemudian ia menuju salah satu masjid yang ada, melainkan Allah menulis kebaikan baginya dari setiap langkah kakinya, dan dengannya Allah mngngkat derajatnya, dan menghapus kesalahan karenanya, menurut pendapat kami, tidaklah seseorang ketinggalan dari shalat, melainkan dia seorang munafik yang jelas kemunafikannya (munafik tulen), sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah diantara dua orang hingga diberdirikan di shaff (barisan) shalat yang ada. (HR. Muslim)

4. Pencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

Dengan hati yang tenang pula manusia tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu, shalat berfungsi mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman :
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (QS. Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut : 45)
Dalam ayat diatas Allah memerintahkan kita membaca petunjuk yang Dia turunkan untuk menyelamatkan kita (dari kesesatan). Namun Allah memerintahkan pula kita mendirikan shalat agar tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Karena petunjuk Allah sulit masuk pada hati yang dikotori perbuatan keji dan mungkar.

Hal ini berlawan dari godaan setan, yaitu membawa manusia kepada perbuatan keji dan mungkar sebelum meyesatkannya. Sebagaimana firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur : 21)
Oleh karena itu shalat menjadi amalan yang paling utama dalam agama ini. Meninggalkan shalat menjadi dosa yang lebih besar dari dosa besar lainnya. Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ
Istiqomahlah kalian dan kalian tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna (beramal semuanya), dan ketahuilah bahwa sesunguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah shalat, dan tidak menjaga wudhu kecuali seorang mukmin. (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darimiy)
Ibnu Mas'ud berkata pula :
سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
Saya bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: "Manakah amalan yang lebih utama?" Beliau menjawab: " Shalat tepat pada waktunya." Saya bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orangtua." Saya bertanya pula: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Berjihad di jalan Allah." (Muttafaq 'alaih)

5. Pencegah Kekafiran

Berdasarkan Jumhur ulama bahwa orang yang melakukan dosa besar tidaklah kafir selama ia tidak meyakini kebolehannya. Namun bukan berarti seseorang itu merasa aman dengan dosa yang dilakukannya. Sebab dosa akan menutup hati seseorang. Semakin tertutup/ kotor hati seseorang semakin sulit petunjuk itu masuk kedalamnya. Sedangkan petunjuk-lah yang menyelamatkan seseorang dari kesesatan dan kekafiran.

Maka apabila seseorang sudah melalaikan shalat maka sulit baginya taat kepada petunjuk Allah. Sebaliknya ia cenderung kepada hawa nafsunya. Sedangkan hawa nafsu inilah yang membawa kepada kesesatan. Allah berfirman :
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (QS. Al-ghayya). (QS. Maryam : 59)
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ‘ghayya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. Intinya, Al-Ghayya ini adalah tempat yang paling dalam di neraka khusus orang-orang yang kafir setelah beriman (munafik). Allah berfirman :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisa : 145)
Hal ini salah satunya disebabkan orang-orang munafik melalaikan shalat. Sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa : 142)
Intinya ketundukan dan keimanan dalam hati tidak bisa dipaksakan. Walaupun seseorang itu telah mengetahui kebenaran. Sebagaimana firman Allah :
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan dalam agama (paksaan beriman di hati); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat (QS. Al-ghayya). Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 256)
Maka apabila seseorang sudah keluar dari ketundukan, maka dia telah lepas dari tali dan penjagaan Allah. Dosa-dosanya telah menghalangi cahaya petunjuk ke dalam hatinya. Maka inilah yang menyebabkan seseorang semakin mudah disesatkan setan. Allah menjelaskan dalam ayat berikutnya :
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 257)
Wallahu a'lam.

Iyas Tanjung
Bogor, 15 Januari 2013